Pengantar

Apa itu Akasianapedia? kita ambil dari 3 kata, yaitu:

IMPA (ikatan mahasiswa pecinta alam) Akasia yang berdomisili di Fakultas Hukum-Universitas Jember, Jawa Timur.

Indiana Jones atau Indy adalah seorang petualang fiktif agen OSS, tentara, profesor arkeologi, dan protagonis utama, muncul pertama kali di film tahun 1981 yaitu Raiders of the Lost Ark.

Ensiklopedia (/énsiklopédia/) adalah sejumlah tulisan yang berisi penjelasan yang menyimpan informasi secara komprehensif dan cepat dipahami serta dimengerti.


gambar

Idea ini sebetulnya cuma sekedar majalah, poster dan komik – soalnya kebanyakan orang mesti jenuh dengan artikel/tulisan panjang, bahkan kalangan ilmiah sekali pun.

Mata, perasaan dan pikiran juga butuh makanan segar dan sehat plus rekreasi – nah, dalam maksud inilah kita bikin sesuatu yang simpel aja, sekedar catatan ringan untuk semua umur dan kalangan.

Meskipun sebetulnya visi kita adalah outdoor sports (olahraga alam bebas) dan wacana alam serta wawasan lingkungan yang berkarakter, tapi kita sendiri butuh sebuah diorama dengan konsep ringan yang bikin sudut garis bibir kita melengkung ke atas (senyum: red).

Udah terbeban hidup kita dengan info kejahatan, pelanggaran dan penyimpangan sosial – tapi bukan berarti kami hasut cuci-tangan dan diam diri atau ngalihkan perhatian melainkan sekedar ngajak kilas-balik kepada suatu romantisme lingkungan dan hidup.

Supaya kita tetep punya pandangan bahwa kita nggak hidup sendirian dan kita semua berhubungan untuk saling melengkapi, ngelepas semua atribut dan dasi - sahaja.


Satu aja pertanyaan kita: “apakah Bumi kita ini selalu sehat?”


Nggak perlu dijawab lah ya, nanti malah bikin nyali kita ciut dan sebal.


Oh iya, ide-nya juga dari warung kopi tempat nongkrong dan jajan buat ngganjel perut sambil ngalor-ngidul mbuka wacana obrolan bebas demi idea orisinal ngisi otak dan konsep kegiatan ke depan.


Terima kasih, wasalam.


wait for our merchandise as product souvenirs.
Tampilkan postingan dengan label akasiana reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akasiana reflection. Tampilkan semua postingan

Begitu Begitu Saja Sebenarnya

Rutinitas didalam Impa Akasia adalah kewajiban didalam proses keorganisasian, rutinitas tersebut adalah kegiatan kepanitiaan, kegiatan kepengurusan, kegiatan alam bebas.

Tata aturan didalam Impa Akasia merupakan dasar hukum bagi etika sebagai seorang organisatoris, oleh karenanya perlu dipahami, diyakini dan dilakukan dengan unsur kesadaran.

Hal yang mendasar diluar rutinitas dan tata aturan adalah rasa yang timbulnya karena media rutinitas dan dengan dasar aturan yang telah dibuat, diperbaharui sesuai perkembangan pemikiran para pelaku sejarah pada masa ke masa hingga saat ini.

Rasa timbul karena terbiasa bukan karena pandangan pertama, karena pandangan pertama hanyalah tipuan nafsu semata yang bersemayam dalam hati setiap manusia.

Kepentingan rasa merupakan kepentingan untuk mewujudkan sikap toleransi, peduli, dan mau melakukan sesuatu tanpa imbalan jasa, dan yang timbul adanya suatu balas jasa.

Berjalannya proses untuk menimbulkan rasa harus tetap selalu didampingi oleh kedewasaan berpikir, sifat dasar yang baik sebelum berbenturan rasa dengan individu lainnya.

Jiwa loyal dan profesional adalah nilai-nilai yang sangat penting untuk menjaga nilai rasa yang akan terbentuk didalam setiap hati anggota

Untuk menumbuhkan dan memperkuat jiwa loyal dan profesional maka harus kembali kepada tujuan awal mengapa, bagaimana dan untuk apa, seseorang bisa masuk dan menjadi anggota.


Tidaklah pantas bila kita merasa loyal dan profesional tanpa belajar bagaimana tujuan awal dibentuk dan berjalan seiring perubahan

pemikiran para pelaku sejarah yang ada, Karena yang timbul pemikiran sok dan lebih merasa tahu yang sebenarnya tidak tahu.


Loyal dan profesional secara persaudaraan tidaklah bisa diukur atau dirasakan hanya dengan logika saja, arti sesungguhnya adalah tindakan yang secara riil dilakukan dengan rasa tanpa meminta lebih yaitu ikhlas.

Satu Tekad, Satu Nafas, Satu Tujuan
AKASIA

Pecinta Alam Di Mata Kasar Orang "Asing"

Berlatar Belakang Pecinta Alam

Pandangan inilah yang dipandang di mata orang "asing" berbeda, sebelum menginjak jauh soal perspektif yang dirasa keliru ini. sejenak kita tengok dulu landasan pengertian dari dua kata yang tersusun dalam kata "PECINTA ALAM".
Pertama, kata "CINTA" menurut KBBI mengandung arti (1) suka sekali; sayang benar (2) kasih sekali; terpikat (3) ingin sekali; berharap sekali; rindu (4) kalau susah hati (khawatir); risau.
Sedangkan Alam menurut KBBI mengandung arti (1) segala yg ada di langit dan di bumi (spt bumi, bintang, kekuatan): -- sekeliling; (2) lingkungan kehidupan: -- akhirat; (3) segala sesuatu yg termasuk dl satu lingkungan (golongan dsb) dan dianggap sbg satu keutuhan: -- pikiran; -- tumbuh-tumbuhan; (4) segala daya (gaya, kekuatan, dsb) yg menyebabkan terjadinya dan seakan-akan mengatur segala sesuatu yg ada di dunia ini: hukum --; ilmu --; (5) yg bukan buatan manusia: karet --; (6) dunia: -- semesta; syah --; (7) kerajaan; daerah; negeri.
 Ya, inilah yang terurai dalam perumusan dalam KBBI yang sering digunakan untuk orang dalam mengartikan sebuah kata sekaligus menjadi pijakan. Namun perlu diwaspadai bahwa interpretasi seseorang sangat beranekaragam dalam menafsirkan suatu hal. Menurut pikiran saya yang logis dan simple ini "CINTA" berarti suatu yang dirasa oleh hati dan akal kita memiliki sinkronisasi kesukaan, kepedulian, dan rasa ingin merawatnya. "ALAM" memiliki arti bahwa segala sesuatu yang terkandung di atas langit serta di dalam dan permukaan bumi baik berupa benda bergerak/tidak bergerak, benda hidup/mati, benda yang tersembunyi (tidak dapat dinalarkan oleh akal dan pikiran) maupun "person" atau manusia.

Sembari perihal diatas, mari kembali ke ranah perspektif diatas bahwa banyak orang berargumentasi tanpa didasari pemikiran dan analogi yang benar, "PECINTA ALAM" adalah seseorang yang dengan rasa dan hatinya serta akalnya mencintai dan menjaga kelestaria fungsi lingkungan hidup. Seiring dengan hal ini, hal yang menjadi suatu kesimpulan seseorang adalah suatu label bahwa mereka adalah "PECINTA ALAM", dimana banyak kesalahan pula yang dilakukan dalam mengotori alam, perlu digaris bawahi bahwasanya "PECINTA ALAM"  sebenarnya bukan seseorang yang notabennya diwadahi organisasi yang mengatasnamakan "PECNTA ALAM" siapa saja bisa mengklaim dirinya hal itu. Namun perlu dicatat bahwa pandangan negatif dan sepihak ini perlu diluruskan karena setiap orang bisa saja tanpa disadari atau sadar mereka yang mengaku bukan dalam kelompok ini juga membuat kesalahan dalam mengotori alam.
PERLU KAH PANDANGAN INI TERUS BERKEMBANG ? perlu atau tidak dijawab merefleksikan diri sangat berarti dalam mengartikan sudut pandang yang salah ini.

drowned in (sengaja nyebur)

drowned in (sengaja nyebur)

jangan jadi orang pertama, karena elu-lah yang bakal kena tuntutan hukum yang paling berat.

jangan jadi orang di depan, lu bisa jadi target untuk dijadikan korban empuk buat kekerasan aparat.

jangan jadi orang terdepan, elu bakal jadi T.O (target operasi), nominee top black-list, kemana lu pergi – gak akan ada tempat nyaman.

jangan mau di atas, sebab gak ada di kamus pergerakkan tentang tangga untuk turun, yang ada elu mesti terjun bebas dari ketinggian itu.

jangan jadi orang yang di muka, lu bakalan dijadikan kambing hitam doang sebab kebaikan lu.

jadi aja elu orang UTAMA, di belakang layar lu bisa saksikan sendiri betapa hebatnya konsep yang lu bikin saat diterapkan di lapangan, ikut ambil bagian tanpa perlu ngotorin pakaian.

Cuma beberapa masalah yang bakal jadi ganjalan, yaitu pertama, semua ide hasil pemikiran lu bakal di klaim oleh orang lain yang pingin ngerasain naik daun yang gila hormat dan nama besar…

dan GAK MASALAH selama lu jadi saksi atas pemikiran besar itu, yang notabenenya lu sendiri yang bikin!

Kedua, elu gak punya greget di mata orang… it’s okey, yang terpenting – jangan biarin diri lu dipandang sebelah mata sama orang lain, sama kroco-kroco yang cuma punya mulut besar. Atur diri lu, gimana caranya supaya disegani, dingin di hati dan panas di otak, SEGAN!

perenungan sebuah wacana

perenungan sebuah wacana

Mungkin saya adalah salah satu diantara sekian kakak yang hampir nggak pernah kelihatan “ngelus” adiknya. Bagaimana saya sempat melakukan hal itu bilamana dunia nyata terus menamparnya, meskipun kehalusan belai itu menenangkan.

Dalam sebuah ilustrasi nyata, demikian kira-kira.

“dunia bahkan dapat memperkosa si adik dan kemudian belai halus kita pun pasti sudah tidak berguna yang dengan demikian akan berubah jadi jilatan bagi tubuh si adik, jilat erotis yang memberikan ekstase bagi tubuh si adik disertai tuturan, ‘tenang, dik – nikmati cumbuan kasar nafsu dunia ini, ikutilah ritme birahinya’”.

Kita jilati tubuh si adik hingga puncak, sementara dunia sedang melumat habis keperawanan pikirannya memaksanya untuk mendapatkan rasa yang tidak mungkin dinikmati secara alamiah.
Betapa hina dan rendahnya saya jika begini.

Tidak! Yang sayalakukan adalah merespon dengan ketegasan, merangsang nalar dan naluri si adik untuk mampu hadapi dunia nyata.

Bukan berarti keras, apalagi kasar.

Ini bukan perkara karakter, watak atau penempatan diri – ini adalah persiapan menuju dunia nyata – pemantapan perbekalan.

Seorang panglima perang malah akan mempelajari musuh dan medan laga, melatih pasukan dan membuat strategi terhadapnya – bukan sebaliknya sekedar mengumpulkan pasukan sementara tidak tau apa dan siapa yang dihadapi.

Keseriusan apa yang dimaknai dari hanya bercerita dan bertanya untuk kemudian melemparnya ke dalam jurang? Naïf dan bodoh.

Marilah kita buat sebuah kesepakatan besar dan penting yang menyangkut hidup daripada Akasia adalah tentang: “apa, siapa dan bagaimana Akasia itu semestinya?”

Jangan lagi kita atasnamakan anggaran yang ada di Akasia demi penetrasi kepentingan tertentu dan dimanfaatkan secara parsial.

Saat berada di Akasia, maka kita harus berbicara dan bersikap sebagai Akasia, bukan yang lain.
Dapatkan pengalaman hidup itu dari luar ke dalam, dan jangan sampai sebaliknya.

Jangan lagi kita berusaha untuk memberikan gambaran intimidatif apalagi pilihan, yang seharusnya kita sampaikan adalah materi dan biarkan adik-adik berproses sehingga kedewasaan mereka dalam berpengetahuan danbergeraklah yang menyampaikan mereka kepada dunianya – ke dalam masa dimana mereka mengisi ruang-waktunya sendiri.

Tidak juga kita berikan perbandingan secara tidak seimbang dan tendensius.

Mereka (adik-adik) punya arah sudut pandang dan cita-citanya masing-masing, maka berikanlah bekalnya berupa “survivor mentaliteit”.

Jadikan mereka sebagai diri yang siap untuk “sendiri” dan mampu membuat keputusan dengan pertimbangan yang terbaik dan terarah – tidakmanja, tergantung dan tempe.

Hingga suatu saat…

Si adik malah membuat dunia berbalik ramah terhadapnya, dunia membantunya menampar siapa pun yang keluar dari jalur – bahkan si adik malah mampu mengangkat kita untuk keluar dari kerumitan.

Saat itulah…

Saya akan berterimakasih dengan belai halus disertai pelukan yang menggugah batin, yang menyimpulkan rangkuman seluruh ruang-waktu kebersamaan dalam seutuh penuh kesayangan, meski sebentar tapi menjadi detik yang merangkum.

Inilah ruang-waktu yang aya rindukan untuk bersedia hadir di hadapan saya dlam kejadian yang nyata ada, adalah saat dimana si adik mampu membopong kerentaan tubuh sang kakak untuk lepas dari kerumitan/keraguan menuju wilayah kenyamanan.

…dan saya tidak akan membelai halus si adik ketika dunia menamparnya.

…dan saya tidak akan terpaku pada pasukan sementara tidak tau musuh (masalah sebenarnya) yang dihadapi.

Sampai kepada suatu masa depan yang dirindukan, saya memang penuh romantisme karena saya dibentuk oleh para pecinta alam untuk jadi pecinta alam dan bukan dilahirkan menjadi sekedar “ujung kuku pecinta alam”.

Kenapa saya tampak selalu berkutat pada konsepsi?

Adalah karena selama ini Akasia masihlah berdiri sebagai wacana belaka sementara kita sibuk menarik-ulurnya dalam konteks yang sempit (picik) sebatas profesi kita.

Maka itulah saya berharap bahwa Akasia itu tidak lagi hanya sekedar idea/wacana belaka.

(kembali ke dasar, petualangan menuju akar; Agung 'cubung' Pramono A. 185.13 IMPA)

aforisma (umpama)

Aforisma: 

Seorang arsitek tertarik dan ingin memiliki sebuah tumpukan kayu saat ditawarkan untuk memilih beberapa rumah terbaik.

Kemudian seorang teman bertanya, “kenapa anda lebih memilih tumpukan kayu yang tidak terurus itu dibandingkan dengan sebuah rumah indah sebagaimana yang lain?” 

Arsitek tersebut menjawab, “saya adalah seorang arsitek, maka saya membuat rumah yang diinginkan”. 

Teman tersebut masih penasaran dan melanjutkan pertanyaannya, “bukankah akan lebih mudah bagi anda terhadap rumah yang sudah jadi, hanya tinggal penyesuaian saja”. 

“tidak”, jawab si arsitek dengan cepat, “saya tidak bisa dengan begitu saja mengatakan kepada semua orang bahwa saya seorang arsitek hanya karena memiliki sebuah rumah yang bagus. Lagipula untuk membuat rumah yang sesuai dari yang sudah jadi tentu akan membutuhkan lebih bayak biaya dan waktu serta tenaga terbuang karena mesti mengalami pemugaran untuk memenuhi keinginan, dan hal lain yang nantinya akan menambah sebagai kesulitan adalah bahwa kita harus mempelajari pondasi dan kerangka awalnya terlebih dahulu”. 

“jadi anda tetap dengan kayu-kayu itu?”, tanya si teman sekali lagi. 

“bukan saya yang memilih tumpukan kayu itu, akantetapi keilmuan saya-lah yang mempunyai hubungan dengan kayu”, demikian si arsitek menerangkan ihwalnya. 

Keterangan: 

Cerita perumpamaan ini hanyalah tentang seorang arsitek yang konsisten dengan ilmu pengetahuan terapannya, demikian juga hal yang sama akan terjadi kepada si desainer, pelukis, penyair atau profesi lainnya, bila mereka menjaga konsistensi, cerdas dan beretika serta benar-benar menunaikan tanggungjawabnya. 

Banyak sekali intepretasi dan penafsiran yang akan dimunculkan dari cerita pendek perumpamaan tersebut, dan hal itu sangat bergantung kepada diri kita, bagaimana memberikan sentuhan maknawi terhadap cerita perumpamaan (aforisma) di atas. 

Bisa jadi obyektif, tapi akan lebih banyak kecenderungan yang mengakar kepada suyektifitas, dan simpul intepretasi tersebut pastilah sangan erat terkait dengan diri sendiri, merupakan representasi (mewakili) diri dengan segala situasi-kondisi yang melingkupi. 

Kita tidak akan pernah bisa menjaga netralitas dan adalah hal yang sangat sulit untuk menempatkan diri sebagai penengah. Padahal, sebetulnya kita mempunyai potensi “obyektif”. 

Tidak ada tendensi untuk menegur ataupun mengacu kepada salah satu atau bahkan beberapa hal aktual yang sedang berkembang di IMPA Akasia saat ini atau kapanpun itu. 

Semuanya kembali kepada bagaimana kita menyikapi, bagaimana sudut pandang kita, menjadi diri sendiri atau mewakili orang lain. 

Kita tidak dibentuk atau kita tidak berada pada posisi untuk memaksakan kehendak agar dapat berpikiran sama, akantetapi kita semua merupakan orang dengan pribadi yang saling berbeda dan ada untuk berpikir bersama. 

Kalaupun terdapat pilihan yang mesti kita hadapi, maka hal-hal tersebut adalah: 

1. berpikir karena ada tata laksana; atau
2. bergerak karena sudah terbiasa; 

terserah mana yang kita pilih, namun semuanya harus mampu memenuhi unsur-unsur antara lain: 

1. fleksibilitas;
2. gradasi antar masa (dinamika);
3. ruang dan waktu antar subyek;

tapi, kalo boleh saya berlancang diri – maka saya pribadi samasekali tidak percaya akan adanya pilihan, karena itu sama dengan persoalan pembelajaran pada usia dini yang belum menjajagi masa kedewasaan dan belum berada pada dunia nyata yang kompleks yang diperhadapkan dengan sesuatu “kesejatian pribadi”.

Adalah sama dengan sebuah pertanyaan multiple choice (pilhan ganda), sebagai berikut:

Berapakah hasil penjumlahan daripada 1 + 1? 

1. 3
2. 9
3. 2
4. 11
5. 4 

Dan setiap yang mampu, pasti tahu bahwa jawabannya cuma 1 (satu) yaitu poin 3. sedangkan yang lainnya hanayalah sekedar pengalihan yang dapat saja membuyarkan kemantapan ilmu pengetahuan dan membiasakan diri dengan ketidakpastian. 

Mungkin contoh di atas adalah tentang problem matematika sederhana dalam bidang eksakta (ilmu pasti), namun, bagaimana halnya bilaman kita diperhadapkan dengan kehidupan bermasyarakat yang sangat kompleks? 

“gunakan aritmatika sosial, kita harus teliti dan cermat dengan segala premis mayor dan minor untuk membuat sebuah konklusi. Dan samasekali bukan malah menggunakan rumus probabilitas”. 

Lalu, bagaimana bila hasil yang kita dapatkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang kemudian terjadi? 

Kita hanya manusia yang berusaha menemukan formulasi dengan jawaban terbaik, dan bila terdapat premis yang berada di luar kemampuan kita untuk menemukannya agar dapat diolah dalam perhitungannya, maka hal tersebut masih dalam batas kewajaran – namun, lihatlah hasil yang kita dapatkan mestilah akan menjadi yang paling mendekati dengan kenyataan yang akan terjadi. 

Bilapun ada yang subyek lain dengan rumus/formula probabilitas (kemungkinan)-nya dapat berhasil dengan baik, maka janganlah terganggu dengan hal yang demikian itu kemudian meninggalkan samasekali akar pengetahuan yang sudah dikuasai, karena kenyataan tidaklah sama dengan upaya menghitung kancing pakaian untuk ikut serta dalam ajang adu nasib. 

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan teguran dari salah seorang senior yang juga saya sangat hormati, demikian kira-kira intinya: 

“talk less do more, jangan terlalu banyak omong tapi segera lakukan – kita ini bukan politikus”. 

Namun, saya malah mengucapkan terimakasih kepadanya, kenapa? Karena dia memiliki nilai kebaikan yang mesti saya patuhi dan harus saya perhatikan karena saya mengenal bagaimana kepribadiannya sehingga apa yang mesti saya ambil dari pesan moril senior tersebut. 

Dan di sisi lain, saya juga mempunyai tanggungjawab untuk menjelaskan kepada beliau ini mengenai apa yang saya inginkan dengan mengikatkan diri kepada akar komunikasi melalui media kalimat atau tulisan, (kira-kira juga) sebagai berikut: 

“kita pernah berada di sana dan akan selalu berada di sana dengan segala kemampuan kita untuk dapat bertahan ketika berada di sana atau dimanapun kita bertempat. Dan dalam keberhasilan tersebut pastilah kita mempunyai ilmu yang dapat dan harus dibagikan sebagai amal bagi orang lainnya, namun, bagaimana ilmu tersebut akan tersampaikan bilamana kita tidak menjabarkannya dalam bentuk kalimat untuk kemudian dilaksanakan? Bukankah kita hanya akan terjebak kepada “pelayanan” belaka? apakah yang bermanfaat selain ilmu? karena yang lain akan mengalami rusak". 

(kembali ke dasar, petualangan menuju akar: Agung “cubung” Pramono, A. 185.13 IMPA)

Kita justeru harus lebih berhati-hati, saya merasa hidup dan ada di tengah individu yang masing-masing mempunyai perbedaan karakter dan latar belakang (heterogen), memang mungkin kita punya ketakutan tapi ketakutan ini mestinya dikelola sebagai pengetahuan bagi kita untuk dapat berlaku awas dan waspada, bukan untuk dihindari bukan juga untuk dihadapi secara frontal akan tetapi dikelola bersama kedewasaan pola pemikiran kita untuk mampu menjaga “saudara”.
Tidak perlu ada ketakutan di masa depan dengan calon anggota, sesama anggota atau organisasi lain. Jelaskan secara transparan bahwa kita semua punya karakter individual yang pasti saling berbeda, dengan dinamika keorganisasian yang tidak pernah sama. Segala perilaku yang dilakukan secara individu dan murni sebagai pribadi hendaknya dipandang dan dikembalikan kepada subyek atau pribadi itu dengan mekanisme sharing kepada sesama angota, orang atau organisasi lain untuk dapat saling njaga, inilah salah satu ciri kedewasaan berorganisasi (apalagi kalo ternyata subyek ini bisa nyumbangkan prestasi atau pengembangan ke dalam – berharga banget), transparansi disampaikan dengan catatan etika yaitu tanpa penyebutan nama atau penunjukan subyek.

cinta bumi sang ibu

cinta bumi sang ibu

kamu bisa jadi apa yang kamu pikirkan,
selama itu juga orang lain bakal menilai kamu,
mungkin nggak layak tapi kamu nggak patut menilai sendiri.

di luar itu...
nyatakan dengan baik apa yang bisa kamu jadikan,

suka atau tidak...
dan itu berarti mereka segan terhadap kamu,
dan mereka akan mengakui bahwa kamu berharga.

perluaslah duniamu mulai dari situ,
jangan lewati benang merah,
jangan lupakan batasanmu - terutama waktu.

bukan soal berani atau tidaknya menghadapi tentangan,
ragu itu menjaga kamu dari kecerobohan,
pertajamlah intuisi kamu,
supaya kamu bisa lihat dengan jelas hitam-putihnya hidup.

nggak papa memasuki dunia yang abu-abu,
supaya kamu pisahkan...
mana yang hitam dan mana yang putih.

(kembali ke dasar, petualangan menuju akar; dari Alm. bunda buat Agung 'cubung' Pramono sebelum berangkat diklat IMPA Akasia angkatan-XIII)

tentang bumi kekasihku

tentang bumi kekasihku

Kekasihku bertanya kepadaku, “pernahkah engkau rasakan kesetiaan batu kepada bumi? mereka bercumbu di derasnya aliran air dan gejolak cinta mereka melahirkan jeram bagi sungai”

Pernah juga sang terkasih berkata, “tidakkah engkau perhatikan cengkeraman akar pohon pada bumi? Kekuatannya menumbuhkan benih disekelilingnya dan tampaklah keanggunan belantara”

Aku pun berbagi kisah dengan kekasihku, “lihatlah, dinda. Bumi pun merindukan langit, dan getar asmaranya memberikan ketinggian pada dataran hingga terbentuk gunung meski kecupannya hanya tersampaikan kepada awan”

Kemudian sang terkasih menanggapi, “ya, kesedihannya terbenam jauh di lubuk hatinya. Tak ada yang menjadi saksi kecuali lautan yang memenuhi palungnya”

Ada 1 (satu) permintaan dari kekasihku yang hingga sekarang belum terpenuhi, dia ingin agar aku jajagi tebing bumi seperti aku memahami isi hatiku sendiri. Jajagi setiap tebing yang mengisahkan tiap keadaan hatiku.

Saat kusampaikan ketidakmampuanku, sang terkasih memahami, dan dia katakan kepadaku bahwa tebing yang dia maksudkan adalah dirinya yang seringkali terhanyut dalam tiap keadaanku. Dia ingin agar aku selalu jajagi ketinggian hati yang tak mengenal jarak ketinggian, dia ingin agar aku ceritakan kepadanya keadaan hatinya itu bila aku sudah mencapai puncaknya.

Kekasihku itu adalah jiwaku, tak mungkin bagiku untuk menjajagi hingga ke puncak hatinya, yang ingin dia katakana sebenarnya adalah, “jangan pernah engkau berubah, bahkan hatimu tak kau kenali, oleh karena itulah terus perhatikan hatimu, engkau adalah hatimu dan perasaanku berubah sesuai keadaan hatimu”.

“cumbuilah bumi, karena dia akan melahirkan benih kecintaan yang terbaik dari hidup. Rasakanlah gejolak asmaranya, karena dalam gejolak itulah aku akan selalu hadir bersamamu”.

Kekasihku adalah jiwaku sendiri, dan hati itu adalah setiap keadaan yang terjadi saat aku mendekat kepada bumi. Aku adalah bumi akan tetapi bumi bukanlah diriku. Bumi memberikan amanat kepadaku sebagai manusia.

Sebagai manusia, aku tak mungkin menjaga bumi, tidak sendiri ataupun bersama orang lain. Biarlah yag lain sebagai penjaga yang setia, demi kecintaanku maka aku cumbui bumi dengan cumbuan terbaik dari seorang manusia… hingga hilang bersama bumi.

Bumi akan selalu merawat anak-anak alam-raya, mereka hidup dari percintaan kami. Hanya gendong-susuan bumi yang aku percaya untuk pertumbuhan mereka, dengan kekuatannya, bumi akan menjaga, dan dengan kecintaanku bumi akan setia.

(kembali ke dasar, petualangan menuju akar; esai prosais Agung ‘cubung’ Pramono, A. 185.13 IMPA)

my life is my environment

my life is my environment

Sungai tempat kita mandi berbasah sudah kotor, yang bikin nyesek adalah makin kering, debit susut menurun.

Gunung dan dataran tinggi tempat kita napakkan jejak kaki, mencari udara segar dan pelajaran hidup udah makin rendah, meskipun dalam hitungan tahun hanya menyusut sekian mili.

Hutan tempat binatang dan misteri melangkah udah nggak bias disebut hutan hujan, kelembabannya nggak lagi bikin sejuk, cenderung mengeluarkan uap panas dan beracun, jejak mereka makin ke dalam dan jauh menyempit.

Gitu juga tebing dimana darah keluar dari sela jari, mereka udah gampang lapuk, nggak lagi kuat nahan berat badan manusia yang sebenarnya ringkih.

Bumi makin renta di usianya yang sebetulnya tanpa batas, alam udah hampir nggak bersahabat karena dalam pandangannya kita adalah manusia sama dengan perusaknya, lingkungan kita makin sempit karena saling curiga tentang siapa yang sebenarnya ingin memangsa.

Tapi kita tetap bermain, di sana sambil ngukur puncak, ngeraba alotnya padas, berguling di derasnya arus, ngerasakan kehangatan jejak mahluk yang sebelumnya ngelewati jalur hijau.
Mungkin harimau masih minum dari sungai yang sama, tapi bias jadi dia mencurigai si kancil karena mendengar cerita permusuhan dari manusia, dan si kancil pun mencela manusia karena bisikan pohon yang akarnya mongering karena airnya kering di kota hukum celaka.

Hampir saja kita nggak bias berbuat lebih ketika ingat bahwa bangku sekolah membawa kita kepada ilmu pengetahuan, dari sana kita tau dan mengerti siapa yang sedang bermain dan apa yang sedang dipermainkan.

Buku pun mengajarkan kita bahwa sudah tepatlah kita bertempat dan ajeglah mestinya kita mencerna ilmu yang di terima.

Hukum rimba mengarahkan kepada kebijaksanaan dan hokum manusia malah mencerminkan adu-domba dan suaka pencetusnya, berlindung dengan mematikan nafkah dari mangsa yang dicurigainya dengan memukul rata.

Kita punya bekal, dan benih bumi yang meresap di darah dan daging.

Dimana hukum tidak bekerja maka disana kita harus memberikan sumbang saran, namun bila tidak diterima maka kita akan buat naskah tandingan.

Kita memang bermain di lingkungan alam, tapi bukan sekedar main melainkan keakraban menjaga kealamiahan, kita mendekat dan mengerti apa yang bumi katakan.

Makin panas kepala ngelihat kerusakan tapi tetaplah berhati dingin agar tercapai pembentukan aturan tandingan, ditujukan terhadap mereka yang tidak bisa bermain di lingkungan kita.

Sudahlah bumi digali tapi jangalah sampahnya lalu dibuang ke kali, begitu juga pohon banyak ditebang tapi akarnya dibiarkan busuk dan membentuk kubang, gunung ditembus membuat jalan hanya berputar boros dan nggak pernah bias lurus, dimana lagi tebing batu dan karang kecuali kita temukan sekedar di kolam tempat ikan nggak bergerak kencang.

Hukum buatan malah bikin kita binasa karena dibuat oleh sesama manusia pemangsa, mereka pikir punya kuasa padahal cuma manusia lemah yang sembunyi dibalik kemeja tuhannya.

Mereka kira sudah punya tangga untuk mencapai puncak jabatannya, tanpa mereka tau kalo bangunan politik hidupnya nggak pernah kenal tangga untuk turun. Biarlah pelan dank keras mereka rasakan bimana para kolega habis terjerat aturan lawannya, mreka akan lihat bahwa harus terjun bebas ke bawah dari ketinggian gedung jabatannya.

Telah lahir IMPA Akasia dengan rumahnya di Fakultas Hukum Universitas Jember, disemat kain Scarf berwarna merah, dan kepala berisi ribuan aturan.

Telah basah oleh keringat dan darah, luka di badan bertanda kecintaan alami.

Hanya naskah akademis sebagai tandingan yang bakal mbantu kita selamatkan bumi, lingkungan alam tempat kita bermain. Meski kita sadari bahwa semua keruh, kelangkaan dan penyusutan nggak akan bisa kembali seperti sedia kala.

(refleksi hari lingkungan hidup se-dunia di 5 Juni 2011)
 

Kontributor

sahabat Akasiana yang mau share ilmu pengetahuan, info, materi, arsip, dokumentasi, gambar dan idea untuk ngobrolin pengalaman dan interaksi.

Alih Bahasa

Diberdayakan oleh Blogger.